*/

Novita Wijayanti bersama Rakyat

Novita Wijayanti bersama Generasi Muda

Senin, 02 Oktober 2017

Hari Kesaktian Pancasila


Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) lebih dari setengah abad yang lalu menjadi peringatan bagi kita semua, tentang bagaimana akhir dari gerakan yang mencoba mengkhianati Pancasila. Dan sungguh konyol, jika setelah kejadian tersebut, masih ada di antara kita yang ingin mencampakkan Pancasila dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Saktinya Pancasila yang merupakan dasar negara kita, diperlihatkan dengan betapa rakyat Indonesia akan bersatu padu jika ada pihak-pihak yang ingin melawan Pancasila.

Maka kita semua berharap, sejarah menjadi cermin bagi kita untuk terus menegakkan Pancasila. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, belajarlah agar sejarah itu tak pernah berulang. Jagalah Pancasila kita, dari ideologi-ideologi yang bertentangan dengan kelima sila yang telah ditetapkan para pendahulu kita ini.

Senin, 04 September 2017

Demokrasi Nabi Ibrahim dan Semangat Berkurban


Selamat hari raya Idul Adha!

Senin ini, masih merupakan hari tasyrik, yang merupakan suasana perayaan Idul Adha. Masih banyak daging berlimpah di rumah, hasil dari sembelihan hewan kurban.

Kurban adalah suatu amalan yang hanya dibebankan kepada yang mampu. Mengikuti syariat yang dilandaskan pada kisah Nabi Ibrahim. Kisah nabi yang masih bersikap demokratis ketika perintah datang untuk menyembelih anaknya. Ingatlah dialognya dengan sang putra, Ismail.

"Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu. Maka perhatikanlah, apa pendapatmu?" (Q.S. Ash Shaffaat: 102)

Walaupun perintah itu datangnya langsung dari Tuhan, Ibrahim tetap meminta pendapat sang putra. Peluang penolakan jelas ada. Tetapi beruntunglah, sebab putranya pun juga manusia pilihan. Jawabannya tercantum dalam ayat yang sama, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan padamu. Insya Allah kaudapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Tentang keikhlasan keduanya, sudah banyak disampaikan oleh para khatib pada khutbah usai Shalat Ied. Mari kita membahasnya dari sisi lain, yaitu sikap demokratis Nabi Ibrahim. Bahwa dalam menerapkan hukum pun, Nabi Ibrahim menyampaikannya dengan bahasa yang memberikan kesan keterlibatan objek hukumnya. Terlebih mengingat bahwa hukum tersebut memengaruhi sang objek hukum.

Maka demikianlah, seyogyanya pemimpin dalam menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. Tetap dengan mendengarkan suara dari yang dipimpinnya, sehingga mereka pun merasa dianggap.

Tetapi di sisi lain, yang dipimpin pun harus memiliki kualitas setara dengan Nabi Ismail. Kesadarannya akan perintah Tuhan menggerakkannya untuk mematuhinya. Demikian pula di masa kini, orang-orang yang dipimpin harus memiliki kesadaran pula akan ketaatan terhadap hukum.

Sehingga kedua unsur ini dapat menjalankan fungsinya masing-masing. Pemimpin yang demokratis, serta "anggota" dengan kesadaran tinggi.

Hal tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemerintah mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi, dan rakyat yang taat terhadap hukum yang telah disepakati. Ini pengorbanan kita sebagai bukti cinta pada tanah air. Sehingga kesenjangan antara pemerintah dan rakyat dapat diatasi.

Selasa, 08 Agustus 2017

Semangat Nasionalisme dari Lomba-Lomba Tujuh Belasan

Sumber gambar
Sebentar lagi Indonesia akan merayakan hari jadinya yang ke-72. Kemeriahan tujuh belasan pun sudah terasa. Dari berkibarnya bendera dan umbul-umbul di sepanjang jalan, hingga lomba-lomba yang diselenggarakan di berbagai tempat.

Lomba yang diselenggarakan pun bermacam-macam. Namun yang populer dan cukup sering diadakan biasanya adalah panjat pinang, makan kerupuk, tarik tambang, dan balap karung.

Tahukah Anda, bahwa dari lomba-lomba rakyat tersebut, ternyata bisa memupuk nasionalisme kita?

Konon, lomba balap karung dilandasi pada keprihatinan rakyat pada masa penjajahan Jepang yang begitu miskinnya sampai-sampai hanya berpakaian karung goni. Sehingga, lomba balap karung dapat mengingatkan akan perihnya kehidupan pada zaman itu, dan generasi sekarang dapat menghargainya dengan mensyukuri kemerdekaan saat ini.

Dari tarik tambang, kita bisa belajar tentang gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas. Sementara dari lomba makan kerupuk, kita bisa merenungi kondisi saat ini, di mana hanya makan saja masih banyak yang kesusahan, sebab berbagai kondisi yang disimbolkan oleh tangan terikat.

Lebih jauh dari itu, semua jenis permainan tradisional ini ternyata masih bertahan setelah sekian lama di tengah gerusan zaman yang lebih banyak menggunakan teknologi. Ini menunjukkan bahwa sejatinya, agenda-agenda tradisonal masih memiliki arti dalam jiwa segenap masyarakat Indonesia. Permainan-permainan yang khas Indonesia merupakan momentum kebersamaan yang jarang terjadi di hari-hari biasanya akibat kesibukan masing-masing.

Terselenggaranya lomba-lomba peringatan 17-an ini tepat sekali menjadi cara untuk menanamkan semangat cinta tanah air, sebab biasanya diikuti oleh berbagai kalangan usia, dari anak-anak hingga orang dewasa.

Rabu, 02 Agustus 2017

Menimbang Produk Lokal

Gambar: thetanjungpuratimes.com

Ada satu pertanyaan menarik, "Bagaimana kita diharapkan mencintai produk dalam negeri, sementara kualitasnya jauh di bawah produk luar negeri?"

Pertanyaan tersebut seringkali menjadi dalih ketika kita lebih memilih produk asing dibandingkan produk lokal. Memang harus diakui, ada beberapa produk dalam negeri yang berkualitas pas-pasan, sementara untuk barang yang sama, hasil produksi luar negeri menyajikan kualitas yang bagus, malah kadang dengan harga yang jauh lebih murah.

Tetapi justru di situlah tantangannya. Keengganan kita membeli produk dalam negeri, seringkali justru membuat anak negeri merasa rugi ketika harus memproduksinya. Bayangkan, dengan biaya produksi yang sedemikian tinggi, tetapi peminatnya sedikit, hanya segelintir pihak yang bersedia terjun ke dalam proses produksi ini. Dari yang sedikit itu, jika diproduksi besar-besaran dengan modal minimalis, tentu kualitas juga pas-pasan, sementara jika mengutamakan kualitas bagus, produk akan ditawarkan dengan harga yang lebih tinggi.

Tentu tidak semua memiliki kondisi demikian, hanya gambaran umum saja. Dan karena itulah, menjadi tanggung jawab kita untuk membenahinya. Belilah produk-produk lokal dengan misi ganda, yakni memakmurkan masyarakat lokal, mencintai produk dalam negeri, sekaligus mendorong agar para produsen lokal ini meningkatkan mutunya, sebab semakin banyak orang yang menggemarinya.

Lebih dari itu, jika kita tengok lagi, toh kualitas produk-produk dalam negeri sebetulnya tidak kalah jauh dibandingkan produk asing. Seringkali kita tergoda oleh yang disebut gengsi, sehingga memilih produk luar yang masih bisa didapatkan dari produk lokal yang sama persis.

Kalau bukan kita yang mulai melarisi produk lokal, lalu siapa lagi?

Jumat, 28 Juli 2017

Mengevaluasi Diri

Ada satu hal yang masih belum biasa dilakukan oleh kita, yaitu evaluasi dan introspeksi. Evaluasi penting untuk melihat sejauh mana kita sudah melangkah, dan introspeksi untuk menilai bagaimana dan apa yang sejauh ini sudah kita lakukan berkaitan dengan target tersebut.

Lebih jauh, evaluasi berlaku tidak hanya untuk target-target pribadi kita, tetapi dalam lingkup kebangsaan. Sebagai pemimpin, sejauh mana target-target yang kita buat untuk menyejahterakan rakyat sudah dicapai? Dan sudahkah langkah-langkah kita sinkron dengan target yang ingin diraih tersebut?

Sebagai rakyat, apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa ini? Sudahkah kita berkontribusi bagi kemajuan bersama?

Evaluasi dan introspeksi berlaku tidak hanya untuk sesuatu yang kurang baik, bahkan yang sudah baik pun perlu ditinjau kembali. Jadikan evaluasi dan instropeksi sebagai budaya dan hobi kita, agar hari esok lebih baik dari hari ini.

Rabu, 26 Juli 2017

Bupati Batang dan Banjarnegara Diminta Buat Usulan Proyek

Bupati Batang dan Bupati Banjarnegara diminta membuat usulan proyek, jika ingin jalan tembus Bawang-Dieng melalui Dukuh/Desa Deles, Kecamatan Bawang, Batang – Dukuh Bitingan, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Banjarnegara, dibiayai APBN.

Hal itu diungkapkan anggota Komisi V DPR RI Novita Wijayanti. Anggota Dewan Dapil VIII Jateng itu menyatakan adanya kemungkinan jalan tembus Bawang, Batang ke Dieng, Banjarnegara dibiayai APBN.

"Jalan tembus itu bisa dibiayai APBN dengan sejumlah syarat. Antara lain, bupati membuat usulan proyek ke Kementerian PUPR. Setelah itu, bupati dan kepala DPU, serta kepala dinas terkait, seperti kadinas Pariwisata, termasuk BPBD, untuk presentasi di Kementerian PUPR pentingnya jalur Bawang-Dieng itu," jelasnya.

Misalnya, lanjut dia, jalur itu untuk kepentingan mobilisasi manusia dan barang, jalur pariwisata, jalur evakuasi, jalur ekonomi bisnis, dan bisa menumbuhkan ekonomi masyarakat sebagai akibat multiplier effect yang bersifat positif.

"Kementerian PUPR kemudian minta pertimbangan DPR Komisi V (infrastruktur), Komisi X (kepariwisataan), dan Komisi VIII (kebencanaan). Jika ditanggapi positif, kemudian ada kunjungan DPR ke lokasi. Tujuannya, apakah ruas jalan Bawang-Dieng itu layak dibangun dengan APBN. Sekaligus menetapkan klasifikasi, bisa jadi jalan nasional, provinsi, atau cukup jalan kabupaten."

Bupati Batang Wihaji menyatakan, pada prinsipnya pihaknya berkewajiban untuk membangun Kabupaten Batang termasuk di dalamnya infrastruktur berupa jalan.

"Tentunya, kami berharap dengan adanya proyek jalan tembus itu yang kini sedang digarap, akan membantu pertumbuhan ekonomi. Sebab, jalan baru itu akan sangat bermanfaat bagi masyarakat di sepanjang jalur itu, baik yang masuk wilayah Kabupaten Batang maupun Kabupaten Banjarnegara," jelasnya.

Wihaji lebih membidik manfaat jalur Bawang-Dieng itu untuk meningkatkan ekonomi masyarakat yang tinggal di wilayah hutan tersebut.

”Minimal dengan jalan yang mulus, masyarakat enak melewatinya. Kemudian bagi pecinta objek-objek wisata berbasis alam, seperti hutan, gunung, dan sebagainya, jalur baru itu tentu memiliki daya tarik tersendiri,” tandasnya.



Sumber: Facebook @NovitaMediaCenter

Senin, 24 Juli 2017

Hari Anak Nasional

Kemarin, 23 Juli, kita memperingati hari anak nasional. Pada momentum ini, seyogyanya kita kembali meningkatkan kesadaran anak akan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya kepada orang tua, masyarakat, serta kepada bangsa dan negara.

Tugas kita adalah meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak Indonesia agar mereka bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Kita semua mengharapkan agar anak-anak kita menjadi generasi penerus yang berkualitas, tangguh, jujur, cerdas, dan berakhlak mulia.

Kewajiban kita sebagai orang tua adalah mewariskan kepada anak-anak kita sebuah negara yang aman, damai, adil, sejahtera, berdikari.

Ilustrasi: caramembuka.com

Jumat, 21 Juli 2017

Cara Menjaga Keutuhan NKRI

Gambar: tubasmedia.com

Tanggung jawab untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ada di pundak seluruh warga negara Indonesia. Tidak terbatas pada pemerintah maupun militer, tetapi kita sebagai rakyat pun memiliki kewajiban yang sama. Nah, sebagai masyarakat umum, apa yang bisa kita lakukan untuk berpartisipasi dalam menjaga keutuhan NKRI?

Berikut ada beberapa tips yang diambil dari beberapa sumber.
  1. Cinta tanah air
  2. Membina persatuan dan kesatuan
  3. Rela berkorban
  4. Menambah pengetahuan budaya dalam mempertahankan NKRI
  5. Patuh dan taat terhadap peraturan yang berlaki
  6. Hidup rukun dengan semangat kekeluargaan dengan sesama