Senin, 04 September 2017

Demokrasi Nabi Ibrahim dan Semangat Berkurban


Selamat hari raya Idul Adha!

Senin ini, masih merupakan hari tasyrik, yang merupakan suasana perayaan Idul Adha. Masih banyak daging berlimpah di rumah, hasil dari sembelihan hewan kurban.

Kurban adalah suatu amalan yang hanya dibebankan kepada yang mampu. Mengikuti syariat yang dilandaskan pada kisah Nabi Ibrahim. Kisah nabi yang masih bersikap demokratis ketika perintah datang untuk menyembelih anaknya. Ingatlah dialognya dengan sang putra, Ismail.

"Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu. Maka perhatikanlah, apa pendapatmu?" (Q.S. Ash Shaffaat: 102)

Walaupun perintah itu datangnya langsung dari Tuhan, Ibrahim tetap meminta pendapat sang putra. Peluang penolakan jelas ada. Tetapi beruntunglah, sebab putranya pun juga manusia pilihan. Jawabannya tercantum dalam ayat yang sama, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan padamu. Insya Allah kaudapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Tentang keikhlasan keduanya, sudah banyak disampaikan oleh para khatib pada khutbah usai Shalat Ied. Mari kita membahasnya dari sisi lain, yaitu sikap demokratis Nabi Ibrahim. Bahwa dalam menerapkan hukum pun, Nabi Ibrahim menyampaikannya dengan bahasa yang memberikan kesan keterlibatan objek hukumnya. Terlebih mengingat bahwa hukum tersebut memengaruhi sang objek hukum.

Maka demikianlah, seyogyanya pemimpin dalam menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. Tetap dengan mendengarkan suara dari yang dipimpinnya, sehingga mereka pun merasa dianggap.

Tetapi di sisi lain, yang dipimpin pun harus memiliki kualitas setara dengan Nabi Ismail. Kesadarannya akan perintah Tuhan menggerakkannya untuk mematuhinya. Demikian pula di masa kini, orang-orang yang dipimpin harus memiliki kesadaran pula akan ketaatan terhadap hukum.

Sehingga kedua unsur ini dapat menjalankan fungsinya masing-masing. Pemimpin yang demokratis, serta "anggota" dengan kesadaran tinggi.

Hal tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemerintah mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi, dan rakyat yang taat terhadap hukum yang telah disepakati. Ini pengorbanan kita sebagai bukti cinta pada tanah air. Sehingga kesenjangan antara pemerintah dan rakyat dapat diatasi.

0 komentar:

Posting Komentar